setelah memiliki kesempatan dilahirkan sebagai seorang perempuan…
dan melalui 23 tahun hidup ini sebagai perempuan…
dan lalu bertanya-tanya mengapa harus “perempuan”…
pada akhirnya terjawab juga dari hasil pemikiran,,
yang mengacu pada beberapa buku serta visualisasi dunia…
dan lalu akupun terbangun dan berteriak histeris dengan sekuat tenaga…
Wow…I’m A Woman…
and not just an ordinary woman…but I’m A Muslimah…
Terlahir sebagai Perempuan dan Muslimah
Dahulu,, tepatnya 23 tahun lalu, yaitu ketika aku dilahirkan sebagai seorang perempuan, tentunya aku hanya bisa menerima takdir itu…Hanya menikmati dunia dengan takdir tersebut, yakni terlahir sebagai perempuan.
Kemudian seiring berjalannya waktu, akupun telah melihat dan mengalami sendiri banyak akibat yang ditimbulkan karena kehadiranku sebagai wanita. Dan akupun bertanya-tanya mengapa aku harus mengalami hal-hal itu, hal-hal yang mebuatku tertawa, menangis, bahkan tertawa dan menangis secara berbarengan…dan akupun terus bertanya-tanya…
Aku merasakan bagaimana senang dan sedihnya tinggal di suatu komplek perkebunan tebu. Aku masih teringat bagaimana aku, ibu, dan adikku tidur bertiga disuatu ranjang dan lalu bapak yang tetap terjaga menyelimuti kami semua sambil berbisik, “bapak mau pergi ronda dulu yah…”. Aku juga masih teringat bagaimana aku bermain dengan adikku yang terbaring sakit ditempat tidur dan kemudian aku menertawakannya karena dia memeragakan suatu hal yang teramat lucu, lalu beberapa saat kemudian aku menjerit dan menangis karena tahu yang dilakukannya itu bukanlah lelucon…dia melakukan itu karena panasnya yg amat sangat tinggi…dia kejang-kejang dihadapanku,,, dan anak umur tiga tahun yang berdiri di hadapannya ini hanya menertawainya…astaghfirullah…
Aku juga masih bisa mengingat ketika ibuku yang seorang sarjana teknik kimia ITS dipekerjakan menjadi guru kimia untuk menolong SMA disana. Aku teringat bagaimana beliau yang gajinya sedikit itu, menyalin soal-soal dari buku kimia beliau dan kemudian memfotokopinya untuk bahan belajar anak-anak SMA yang diajarnya. Anak-anak SMA itu sama sekali tidak memiliki buku, karena dana mereka yang terbatas,,tapi ibuku tetap ingin dan berusaha supaya mereka menjadi pintar.
Dan akupun masih ingat bagaimana ibuku memarahiku dengan sangat ketika masa penerimaan rapor di kelas 2 SD. Beliau memarahiku karena aku mendapat rangking 2 (biasanya aku mendapat rangking 1), dan dikalahkan oleh seorang anak lelaki yang sederhana. Dan beliau hanya bilang “si Hendi itu makan nasi loh, sama kayak mbak Ririn…malahan, mbak Ririn hidup lebih baik dari dia…tetapi kenapa mbak Ririn malah tidak bersyukur atas kondisi tersebut, dan malah menjadi malas2an belajarnya…”
Dan masih banyak lagi pengalaman hidupku sebagai wanita…terkadang aku dicintai dengan sangat, terkadang juga pernah dipuja dengan sangat. Terkadang akupun menerima tanggung jawab yang besar, yakni ketika hidup berdua dengan adikku semasa SMP, dan si anak SMP ini mengisi seluruh harinya dengan memasak nasi, menghangatkan lauk yg telah disiapkan untuk seminggu, mencuci piring, mencuci baju, dan merawat adik. Terkadang aku bisa menjadi motivator yg ulet,, Wah-wah, masi kebayang ketika SMU menjadi ketua student club di LIA dan setiap hari aku hanya berkeliling dari kelas ke kelas untuk bilang ke anak-anak itu “ayo…mari kita belajar bahas Inggris…ternyata belajar bahasa Inggris itu mudah loh…gimana klo kita belajar sambil nge-game…ikutin yah games serunya pke bahasa Inggris pada LIA Anniversary besok minggu…(tentunya aku ucapkan seluruh kalimat ini dengan bahasa Inggris…)”
Hm…seluruh pengalaman itu aku jalani dengan sebaik-baiknya,,hanya mengikuti alur…dan sampai menjadi aku yang sekarang ini…
Tapi sekarang, malah muncul seribu pertanyaan…apa yah sebenernya yang aku petik dan pelajarin dari seluruh pengalaman-pengalaman tersebut? kenapa LIA rela memilih seorang cewe seperti aku untuk menjadi ketua student clubnya? kenapa aku selalu memperoleh rangking 1? dan kenapa aku haru hidup di sebuah pedalaman (perkebunan tebu)? Jadi sebenernya untuk apa aku hidup menjadi seorang wanita dan menjadi yang seperti sekarang ini yah?
La Tahzan for Smart Sholehah
Aku tetap bertanya-tanya dan mencari jawaban mengapa aku menjadi wanita. Hal tersebut ditambah lagi dengan banyaknya kenyataan menyedihkan mengenai wanita. Wanita dan keindahannya itu hanya dijadikan sebagai objek seks dan khayalan para lelaki. Diluar sana dengan mudah mereka menerima pelecehan seksual dan bahkan kekerasan fisik…senyum mereka hanya berubah menjadi tangisan. Mereka hanya tinggal dirumah, terkena muntah dan air pipis anak-anak mereka, sementara dilain pihak merekapun hanya menerima bagian kucel dari suami mereka…dan suami ini hanya terlihat indah ketika akan berangkat keluar rumah, tidak didalam rumah itu, dan tidak untuk sang istri. Merekapun menangis, dan menangis dengan kencang ketika disuatu acara teleconference tanya-jawab keagamaan mereka mengeluhkan mengenai perselingkuhan sang suami…Ya Allah hanya untuk itukah aku dan mereka diciptakan sebagai wanita?
Diriku ingin bangkit…aku wanita, tapi aku tidak akan jadi sengsara…maka akupun akan mencari jawabnya…
La Tahzan for Smart Solehah by Muhammad Ramadhan Abu Bakar Mahmud…adalah satu dari beberapa buku mengenai wanita yang aku baca. Dan dengan jujur aku memberikan tepuk tanganku untuk buku ini, yang akhirnya menjawab pertanyaan dasarku tersebut…”mengapa aku dan mereka diciptakan sebagai wanita?”…dan inilah jawabannya…
a) Didalam Islam, jumlah wanita bukanlah setengah atau dua pertiga dari seluruh masyarakat yang ada.
Bahkan,, wanita (muslimah) adalah masyarakat secara keseluruhannya, seperti kata seorang da’i muslim…”Anda adalah setengah masyarakat dan Anda melahirkan yang setengahnya lagi. Berarti Anda adalah masyarakat secara keseluruhannya..”
Wow…ternyata begitu berat yah tugas seorang wanita,, sampai-sampai dia tidak seharusnya hanya mendahulukan kepentingan dirinya saja…tetapi, dia harus mendahulukan kepentingan seluruh umat, yang merupakan suatu kehormatan sebagai seorang wanita dalam Islam…
La Tahzan wahai wanita….
b) Umat sangatlah membutuhkan seorang pemimpin Muslim yang dapat mewujudkan cita-cita umat secara keseluruhan.
Dan tahukah anda bahwasannya sang pemimpin ini tidak akan pernah turun dari langit ataupun keluar dari perut bumi, melainkan ia hanya akan terlahir dari rahim seorang wanita dan terdidik di tangannya. Maka wanita muslimahlah yang akan melahirkannya, mengasuhnya, dan mempersembahkannya kepada umat sebagai salah satu pahlawan. La Tahzan wahai wanita…
c) Wanita adalah benteng bagi kekuatan muslim
Kekuatan muslim terletak pada kekuatan imannya kepada Allah SWT. Kekuatan iman ini hanya bisa dipupuk melalui pendidikan iman, dan pendidikan iman yang paling dasar adalah pendidikan iman didalam keluarga. Nah,,disinilah peran wanita muslimah dibutuhkan, yakni peran untuk menanamkan pendidikan iman yang kuat bagi keluarga dan anak-anaknya sehingga keluarga mereka terbentengi dari musuh-musuh Islam. Bukan hanya satu keluarga kecil ini, tapi pendidikan Islam ini akan diteruskan oleh anak-anak dari wanita muslimah ini kepada keluarga-keluarganya nantinya, dan muncullah Islam sebagai satu kekuatan penuh yang terdiri atas benteng2 kecil yang menjadi besar didalamnya.
Itulah sebagian besar keutamaan wanita…yang mampu menjawab pertanyanku,”mengapa aku dan mereka dicipatakan sebagai wanita?”…sangat indah yah jawabannya?
Hmm,,ternyata…walaupun hanya sekedar menjadi seorang ibu, wanita itu tetap perlu belajar dan menjadi pintar…karena disitulah dia bisa menjadi tonggak yang kokoh bagi berdirinya umat…
Bahkan disuatu buku lain, aku pernah membaca bahwa wanita memiliki HAK UNTUK MEMILIH…dan BUKAN untuk DIPILIH…kenapa harus memilih? karena wanitalah yang akan melahirkan para pemimpin Islam,, dan untuk melahirkan para pemimpin tersebut mereka membutuhkan sosok lelaki yang benar, dalam artian sehat jasmani dan rohani, serta memiliki pemahaman yang kuat dan melaksanakan Islam sebenar-benarnya…dan melalui proses pemilihan jodoh yang benar ini, maka proses penegakan kekuatan Islam dimulai, yakni untuk melahirkan para pemimpin yang benar dari para ayah-ibu yang benar pula….wow,,suatu sistem yang indah sekali…simpel keliatannya, tapi sulit sekali dan membutuhkan tanggung jawab besar dari para wanita dalam pelaksanaannya…
Setelah memperoleh seluruh jawaban diatas, aku tidak lagi bersedih menjadi wanita…aku menjadi sangat bahagia…ternyata aku berada didunia ini bukan hanya untuk sededar hidup sebagai wanita…tetapi juga untuk melaksanakan tugas n tanggung jawabku yang besar sebagai wanita…dengan kata lain, aku hidup untuk bertugas…aku hidup untuk beribadah…dan ketika ibadah itu hanya untuk suatu cinta yang kekal disana (Allah SWT), maka La Tahzan (janganlah bersedih) wahai wanita…
Janganlah bersedih atas nasibmu di dunia, janganlah bersedih dan khawatir atas segalanya…serahkan sajalah pada pemilik cinta abadimu…Allah SWT.