Terima kasih atas kesempatan libur panjang yang Kau berikan ya Allah,, sehingga hambaMu ini bisa mengisinya dengan belajar, belajar, dan belajar….
Belajar tentang Popok…
Humm,,mari ibu-ibu sekalian…mari kita memilih popok yang baik untuk si kecil tercinta….
Pada dasarnya, saya adalah orang yang senang dengan bayi dan anak kecil. Foto-foto dan ekspresi mereka yang lucu dan menggemaskan ternyata cukup membuat saya sedikit-banyak merasa “penasaran” mengenai bagaimana “seluk-beluk kehidupan” mereka….
Dan tahukah anda, ada satu hal utama yang saya temukan hampir di setiap detil kehidupan mereka, yakni POPOK…hahaha,,saya hampir lupa, ternyata hal yang satu itu merupakan hal terpenting dalam kehidupan bayi dan anak kecil…
Bahkan jika dihitung, si kecil dapat menghabiskan 5000 POPOK disposable sejak mulai lahir hingga tidak mengompol sama sekali.
Padahal menurut saya (yang belum pernah menjadi ibu),, POPOK adalah hal paling menjijikkan dan menakutkan….hahaha….but it’s OK,,i’m trying to be a supermom rite?
Di setiap majalah dan website-website yg membahas seputar kehidupan ibu, bayi, dan balita, maka masalah POPOK ini merupakan masalah yang selalu rajin dan tak pernah berhenti untuk dibahas. Hmm,,mulai dari bagaimana memilih popok yang baik, bagaimana mengganti popok, sampai kepada efek popok pada lingkungan.
Saya yakin dan percaya,,klo masalah bagaimana memilih popok yang baik (popok kain atau popok disposable), pasti banyak ibu-ibu bahkan calon ibu-ibu yang sudah jago dalam hal itu.
Atau jika anda belum merasa jago,,anda bisa membacanya di:
http://anakuya.wordpress.com/2008/01/09/memilih-popok-bayi/
http://akuinginhijau.org/2008/02/10/popok-kain-atau-popok-sekali-pakai/
Dari pendapat para pembaca (yang merupakan ibu-ibu dan calon ibu) di kedua website tersebut, maka saya dapat menyimpulkan bahwa kebanyakan ibu-ibu ini lebih memilih menggunakan popok kain daripada popok disposable, dengan alasan lebih “ramah lingkungan”.
Cuman,,ada satu hal yang membuat saya penasaran…yakni mengenai “ramah lingkungan” dari sudut pandang yang lain. Sebuah majalah olahraga dan kesehatan wanita, memberikan sudut pandang yang lain yakni sebagai berikut.
“Memakai popok disposable artinya tidak ‘ramah lingkungan’, hmm tidak juga….bayangkan jika anda memakai popok kain,,seberapa besar tenaga (air, listrik, dan deterjen) yang harus anda keluarkan untuk mencuci popok tersebut? Apakah ini bisa disetarakan dengan sebuah tindakan ‘ramah lingkungan’?”
Hmm,,setelah membaca artikel tersebut, maka saya langsung berpikir “hmm,,ada benernya juga yah…”,,ternyata popok kain juga bisa sangat menjadi tidak ‘ramah lingkungan’, karena setiap kali mencucinya maka kita harus mengeluarkan banyak air, listrik, dan deterjen. Apalagi jika kita memiliki kebiasaan mencuci yang buruk, maka terlalu banyak air dan deterjen bisa sangat memperburuk keadaan.
Jadi bagaimana dengan pilihan kita? apakah tetap memilih popok kain dibandingkan popok disposable,,hmmm,,maka saya serahkan jawabannya pada ibu-ibu sekalian…karna saya yakin, setiap ibu pastilah sangat bijak dalam memilih yang terbaik bagi keluarganya…apalagi bagi si kecil yang kelak akan menjadi generasi pemimpin bangsa…
Oiyah, ngomong-ngomong mengenai tindakan ‘ramah lingkungan’, maka saya merasa tersindir setengah mati…Bagaimana tidak, dengan usia saya yg ehm…bisa dikatakan ‘siap’ menjadi seorang ibu, saya malah lagi hobi-hobinya shopping kosmetika beserta krim2 atau lotion2 tubuh…Duh,,bisa dibayangkan khan betapa penuh sesaknya kamar tidur serta kamar mandi saya dengan botol-botol plastik dari lotion tersebut? Huh, walaupun merk kosmetik tersebut memberikan ‘preferensi khusus’ bagi setiap pelanggannya untuk mengembalikan botol-bekas-pakai-nya ke toko terdekat dengan alasan re-use, namun…tetap saja saya merasa bersalah….duh,,gimana mau jadi supermom klo masih belum ‘ramah lingkungan’…
Terakhir,,demi menutupi rasa bersalah itu,,dan seiring bertambahnya umur, maka saya hanya bisa berkata…
”Wahai pangeranku yg belum kunjung datang…maafkan jeng yah…yang belum bisa menjadi “ibu sepenuh hati”…
Duh,,tapi stiap saat jeng slalu berusaha menghilangkan sifat “keibuan yang abal-abal” ini kok….*excuse lagiiii….
Sabar yah sayang…semoga kesabaran dan keindahan hatimu kelak dapat membimbingku menjadi SuperMom Sejati…
demi kamu…dan anak-anak kita….
Aminnnn…”